LANDASAN TEORITIS MEDIA PEMBELAJARAN
A. PENGETIAN
MEDIA
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti
‘trngah’, ‘perantara’, atau pengantar. Gerlach & Ely dalam Arsyad (2006:3)
mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia,
materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks,
dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media
dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis,
photografi, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal.
Hainich dan kawan-kawan
(1982) dalam Arsyad (2006:4) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang
mengantar informasi antara sumber dan penerima. Definisi tersebut menekankan
istilah media sebagai sebuah perantara. Media berfungsi untuk menghubungan
sebuah informasi dari satu pihak ke pihak lainnya. Sedangkan menurut Briggs
dalam Bachtiar (2006:8) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang
dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Contohnya buku,
film, kaset, dan film bingkai.
Berdasarkan definisi
atau pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran
merupakan alat yang digunakan dalam proses belajar
untuk menyampaiakanpesan, gagasan atau ide yang berupa materi pembelajaran
kepada siswa oleh guru.
B. LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA
PEMBELAJARAN
Menurut Bruner ada tiga
utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung(enactive), pengalaman piktorial/gambar (iconic) dan pengalaman abstrak (synbilic).
Tingkat pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti yang digambarkan oleh Dale sebagai
suatu proses komunikasi. Materi yang ingin di sampaikan dan di inginkan siswa
dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan
pesan kedalam simbol-simbol tertentu (encoding)
dan siswa sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami
sebagai pesan (decoding).
Selanjutnya, landasan
teori penggunaan media dalam proses belajar disampaikan oleh Dale (1969) dalam
Arsyad (2013: 13) yaitu Dale’s Cone of experience (Kerucut Pengalaman
Dale) “Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan
pengalaman yang dikeluarkan oleh Burner”. Dalam kerucut tersebut dijelaskan
bahwa pengalaman secara langsung (kongkrit) memberikan hasil belajar paling
tinggi. Dilanjutkan oleh benda tiruan, dramatisasi, karyawisata, televisi,
gambar hidup pameran, gambar diam, lambang visual dan lambang kata (abstrak)
yang memberikan porsi paling sedkit. Meskipun begitu Arsyad (2013: 13)
menyampaikan bahwa urutan-urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi
mengajar belajar harus selalu pengalaman langsung, tetapi dimualai dari
pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya berikut
ini merupakan Kerucut Pengalaman Dale.
Ada
beberapa landasan dalam penggunaan media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Landasan
Filosofis
Ada suatu pandangan
bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam
kelas, akan berakibat pada proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan
kata lain penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi.
Bunkahkan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat
mempunyai banyak polihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik
pribadinya? Dengan kata lain siswa seharusnya dihargai harkat kemanusiaannya
diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai
dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti
dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang
penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa sebagai anak manusia yang
memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang
berbeda dengan yang lain, maka baik mengunakan media hasil teknologi baru atau
tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan
humanis.
2. Landasan Psikologi
Landasan psikologi
ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau
dari kondisi pelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Namun dapat
dikatakan bahwa belajar itu adalah kegiatan yang bertujuan dan di dalamnya
terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi lebih tahu,
dari belum bisa menjadi bisa, dan bisa menjadi terampil. Banyak faktor yang
termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil
pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada
umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
a. Tingkat
kecerdasan siswa
b. Sikap
siswa
c. Bakat
siswa
d. Minat
siswa
e. Motivasi siswa
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan
pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil
belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan
kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya
diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara
efektif.
Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat
sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang
diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan
pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak.
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan,
penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi,
teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan
orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah,
mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan
masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan
terkontrol.
Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk:
kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi
disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga
menjadisistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan,
orang, bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
Media belajar
sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki manfaat yaitu :
a. Meningkatkan produktifitas pendidik
Mempercepat laju belajar siswa,
membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban
guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan
mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajar yang
sifatnya lebih individual
Variasi dalam cara belajar siswa,
pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajar.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah
terhadap pembelajaran.
Perencanaan progam
pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi
oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristik bahan pembelajaran
dan analisis.
d.
Lebih memantapkan pembelajaran.
Meningkatkan kapasitas
manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, dimana
informasi dan data yang diterima lebih banyak, lebih legkap, dan akurat. Karena
media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan
mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi.
e. Dengan media dapat membuat proses
pembelajaran menjadi lebih langsung atau seketika. Karena media mengatasi
jurang pemisah antara pembelajar dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan
manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan
“kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.
f.
Memungkinkan penyajian pembelajaran
lebih merata dan meluas.
4. Landasan Empiris
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara
penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan
hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan
bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe
atau gaya belajarnya.
Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan
bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video,
atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka
belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru.
Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika
menggunakan media audio-visual.
Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media
pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Menurut Soetopo (2013) bedasarkan pengalaman nyata dari hasil penelitian,
murid yang diajarkan oleh guru yang menggunakan media bervariasi dibandingkan dengan
murid yang dajarkan oleh guru yang tidak menggunakan media bervariasi, hasil
belajarnya lebih tinggi murid yang diajarkan oleh guru yang menggunakan media
bervariasi.
5. Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pebelajaran ialah rasional
penggunaan media pembelajaran yang ditimjau dari sejarah konsep istilah media
digunakan dalam pembelajaran. Untuk megetahui latar belakang sejarah penggunaan
konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pembelajaran visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat
bantu dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda
atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pembelajar.
Kemudian konsep penbelajaran visual ini berkembang menjadi “ audio
visual instruction” atau “ audio visual education” yaitu sekitar
tahun 1940. Sekitar tahun 1945 muncul beberapa variasi nama seperti “ audio
visual material “ , audio visual method “ atau “ audio visual
devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat dan
bahan oleh pembelajar untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pembelajar
melalui mata dan telinga. Pemanfaatan konsepsi audio visual ini dapat dilihat
dalam “ kerucut pengalaman “ Edgar Dale
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “ audio
visual comunication “ pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep
komunikasi dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau
bahan yang berupa bahan audio visual untuk pebelajaran, tetapi dipusatkan pada
keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber ( pembelajar,
materi atau bahan ) kepada pemerima ( pembelajar ). Gerakan komunikasi audio
visual memberikan penekanan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan
menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha
mengaplikasikan konsep komunikasi, sestem, desain sistem pembelajaran dan teori
belajar dalam kegiatan pembelajaran. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar
tahun 1952 dengan munculnya konsep ” instruktional materials “ yang
secara konsepional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Karena pada
intinya konsepsi ini ialah mengaplikasikan proses aplikasi dan
sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran.
Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “ instructional
material “ adalah “teaching/learning “ , ” learning
resources”. Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan instilah “educational
media” dan “ instructional media”. yang sebenarnya
secara konsepsional tidak mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena
di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang
ditimbulkan dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini
terjadi sekirar tahun 1969-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori
komunukasi, pengembangan sistem pembelajaran, dan pengaruh pesikologi.
Behviorisme, maka muncullah konsep “educational technologi “ atau
“ instrucional technologi “ dimana media pendidikan atau
media pembelajara adalah bagian dari padanya.
PERMASALAHAN:
Berdasarkan landasan empiris diatas yg menyatakan bahwa siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Jadi bagaimana cara guru menyesuaikan media tersebut kepada masing-masing siswa yang mempunyai karakterisktik dan gaya belajar yang berbeda? Apakah guru harus menyiapkan bermacam-macam media karna adanya perbedaan gaya belajar tersebut?
Referensi
Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: PT
RAJAGRAFINDO PERSAD
Bachtiar, W. Harsja. 2006. Media Pendidikan. Jakarta: PT
RAJAGRAFINDO PERSAD

Bagaimana pandangan kakak secara pribadi terkait pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat pada proses pembelajaran yang kurang manusiawi?
ReplyDeleteBagaimana menurut kakak dengan karakteristik landasan historis? Kapan landasan tersebut kita jadikan acuan penggunaan media?
ReplyDeleteMenurut persepsi kakak, bagaimana cara menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan landasan psikologi dengan psikologi anak-anak yang berbeda-beda di dalam kelas tersebut?
ReplyDeleteSaya kurang mengerti dengan gambar segitiga yg anda cantumkan, bisakah anda menjelaskan ?
ReplyDeleteBerikan contoh penggunaan sejumlah teknologi yang berbeda yang memungkinkan untuk menggabungkan media (teks, audio, graphics, animation, video, dan interactivity) untuk tujuan komunikasi!
ReplyDeletejelaskan kriteria pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa itu seperti apa?
ReplyDeleteAssalamualaikum
ReplyDeleteSekarang semakin banyak media pembelajaran yang mendukung dalam proses pembelajaran, tolong jelaskan bagaimana pendapat anda tentang media berbasis internet dalam proses pembelajaran sekarang, apa kelebihan dan kekurangannya?