Wednesday, 20 March 2019

REFLEKSI AKHIR PADA SETIAP MINGGU
PADA MATERI EVALUASI PEMBELAJARAN



REFLEKSI EVALUASI PEMBELAJARAN


Nama              : Rifni Anjani
NIM                : P2A918003
Materi             : Lesson Study

Apa yang telah saya pahami?
Yang dapat saya pahami mengenai Lesson Study adalah suatu pendekatan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru secara kolaboratif, dengan langkah-langkah pokok merancang pembelajaran untuk mencapai tujuan, melaksanakan pembelajaran, mengamati pelaksanaan pembelajaran tersebut, serta melakukan refleksi untuk mendiskusikan pembelajaran yang dikaji tersebut untuk bahan penyempurnaan dalam rencana pembelajaran berikutnya. Fokus utama pelaksanaan lesson study adalah aktivitas siswa di kelas, dengan asumsi bahwa aktivitas siswa tersebut terkait dengan aktivitas guru selama mengajar di kelas.
Pada kajian pertemuan dikelas dapat disimpulkan bahwa ketika melakukan lesson study guru dapat menemukan sebuah masalah yang terjadi dikelas, lalu dianalisis apa penyebab masalah tersebut, setelah ditemukan penyebab guru membuat tindakan perbaikan dalam menangani masalah, dan terakhir melakukan tindakan perbaikan dengan tujuan memperbaiki apa yang menjadi kekurangan dalam suatu proses pembelajaran tersebut.

Apa yang belum saya pahami?
Saya masih kurang paham tindakan perbaikan dan pencegahan seperti apa yang tepat dalam mengatasi masalah yang sering terjadi dikelas.

Upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham?
Mencoba memdalami dan memahami terlebih dahulu akar penyebab dari permasalahan yang ditemukan. Setelah itu jika tidak dapat solusi, meminta pendapat kepada teman untuk mendapatkan solusi terbaik dan mencari artikel-artikel yang dapat membantu mengatasi masalah yang telah ditemukan.
Dan saya telah mencoba  berdiskusi dengan teman, salah seorang guru berinisial MS yang mengajar di salah satu sekolah swasta di kota jambi, dia mengatakan bahwa guru yang sedang mengamati perlu memiliki sintaks agar proses penilaian berjalan lancer dan sesuai dengan rencana.

Apa saja yang saya dapatkan dari diskusi dengan teman?
Berdasarkan diskusi dengan MN dapat diketahui bahwa masalah pada kelas tersebut ada pada guru dan siswanya. Menurut MN, masalah-masalah tersebut sudah seeing terjadi pada proses pembelajaran. Sehingga hal ini perlu menjadi perhatian agar hal yg sama tidak terjadi lg untuk masa-masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlu ada yg namanya kerjasama antara pemerintah, guru, dan orang tua siswa. Pemerintah harus lebih memikirkan kualitas seorang guru, dengan cara meningkatkan kompetensi guru dgn adanya pelatihan, setidaknya tiap awal smt diadakan dan dijadikan untuk evaluasi bersama. Guru harus berani lebih kreatif dalam kelas. Tidak hanya fokus menggunakan metode ceramah, guru bisa menggabungkan metode agar siswa tidak merasa bosan.

Kemudian, adanya kerjasama antara guru dan or
ang tua. Sebagusnya, wali kelas membuat grup (WA) orangtua siswa, sehingga jika ada masalah di sekolah, guru bisa menyampaikan masalah tsb dan orgtua bisa melakukan konseling thd anaknya.

Apa yang saya berikan kepada teman saya?
Berdasarkan diskusi yang dilakukan dikelas saya memberi pendapat bahwa masalah tersebut bukan hanya dating dari siswa tetapi juga bisa datang dari siswa maupun faktor lainnya.


REFLEKSI EVALUASI PEMBELAJARAN


Nama              : Rifni Anjani
NIM                : P2A918003
Materi             : Penilaian Afektif

Apa yang telah saya pahami?
ü  karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan.
ü  Pengukuran ranah afektif dilakukan melalui metode observasi dan metode laporan diri. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan atau reaksi psikologi.
ü  Tingkatan Ranah Afektif: tingkat receiving, tingkat responding, tingkat valuing, tingkat organization, tingkat characterization.
ü  Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
Apa yang belum saya pahami?
Mengenai penilaian afektif  ini, ada beberapa hal yang belum saya pahami, diantaranya:
ü  apa yang menjadi indikator penilaian afektif dalam pembelajaran matematika.
ü  Apakah penilaian afektif ini bisa menjadi acuan guru untuk menentuka keberhasilan siswa dalam memahami materi matematika?

Upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham?
Mencoba mendalami dan memahami terlebih dahulu mengenai penilaian afektif itu sendiri, mencari literature dan jurnal-jurnal yang relevan yang sesuai dengan apa yang menjadi permasalahan saya, lalu menanyakan kepada teman atau orang yang lebih berpengalaman untuk mendapatkan solusi terbaik.

Apa saja yang saya dapatkan dari diskusi dengan teman?
Berdasarkan diskusi yang dilakukan dikelas saya menemukan bahwa menurut teman saya yang berinisial MN pada presentasinya menjelaskan bahwa untuk menyusun instrument penilaian afektif dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Pemilihan ranah afektif yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap suatu materi pelajaran.
2.      Penentuan indikator apa yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran
3.      Beberapa contoh indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran.
4.      Penentuan jenis skala yang digunakan.
5.      Penulisan draft instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan indikator dan skala yang telah ditentukan.
6.      Penelaahan dan meminta masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian ranah afektif yang telah dibuat.
7.      Revisi instrumen penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat, bila memang diperlukan
8.      Persiapan kuisioner untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang diberikan siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
9.      Pemberian  skor inventori kepada siswa
10.  Analisis hasil inventori minat siswa terhadap materi pelajaran

Apa yang saya berikan kepada teman saya?
Memberikan pendapat bahwa salah satu kemungkinan permasalahan yang akan dihadapi menjadi seorang guru yaitu guru selalu mengutamakan pencapaian target kurkulum dan hasil belajar yang bagus. Guru jarang memperhatikan proses penilaian yang bersifat afektif maupun psikomotor guru lebih memperhatikan penilaian kognitif karena guru beranggapan bahwa jika penilaian kognitif siswa baik maka siswa tersebut telah berhasil dalam pembelajarannya. Namun pendapat seperti ini salah untuk dipertahankan. Guru yang baik adalah guru yang melakukan penilaian sesuai prosedur baik itu penilaian kognitif, afektif maupun psikomotor sama pentingnya. Karena salah satu faktor suskesnya seorang siswa tergantung penilaian guru yang diberikan.


REFLEKSI EVALUASI PEMBELAJARAN


Nama              : Rifni Anjani
NIM                : P2A918003
Materi             : Framework for classroom assesment in mathematics

Apa yang telah saya pahami?
Tujuan dari kerangka kerja untuk penilaian kelas dalam matematika adalah untuk membawa tujuan penilaian kelas bersama dengan tujuan pendidikan matematika dengan cara yang mulus dan koheren, dengan hasil yang optimal untuk proses belajar mengajar, dan dengan saran konkret tentang bagaimana membawa penilaian di luar kelas dalam situasi kelas.
Perbedaan dalam penilaian formatif dan sumatif dalam kelas lebih terkait dengan waktu dan jumlah penumpukan dibandingkan yang lainnya. Yang dibutuhkan untuk keduanya adalah penilaian itu mengacu pada kriteria, memasukkan kurikulum dan menghasilkan penilaian yang selaras.
Standar Penilaian NCTM menawarkan titik awal yang sangat baik untuk diskusi tentang prinsip dan standar dalam penilaian kelas. Standar tersebut adalah tentang (a) matematika, (b) pembelajaran matematika, (c) kesetaraan dan peluang, (d) keterbukaan, (e) inferensi, dan (f) koherensi. Bagian berikut membahas masing-masing standar ini secara bergantian.

Apa yang belum saya pahami?
Yang belum saya pahami yaitu apakah sistem penilaian yang di anut pendidikan di Indonesia telah mengacu pada kerangka kerja penilaian di kelas? Lalu apakah penerapannya sesuai dengan yang telah dibuat?

Upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham?
Mencoba mendalami dan memahami terlebih dahulu mengenai penilaian afektif itu sendiri, mencari literature dan jurnal-jurnal yang relevan yang sesuai dengan apa yang menjadi permasalahan saya, lalu menanyakan kepada teman atau orang yang lebih berpengalaman untuk mendapatkan solusi terbaik.

Berdasarkan beberapa hal yang belum dipahami seperti yang dipaparkan pada pembahasan sebelumnya, upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham adalah sebagai berikut:
a.       Mencari sumber lain, dalam hal ini adalah melalui internet.
b.      Mencari jurnal-jurnal dan artikel yang berhubungan dengan sistem penilaian yang di anut Indonesia.
c.       Berdiskusi dengan beberapa teman saya, diantaranya MR, MN dan MI.

Apa saja yang saya dapatkan dari diskusi dengan teman?
Ada beberapa hal yang saya dapatkan ketika diskusi dengan teman.
ü  Menurut MR yaitu semua sekolah secara tidak langsung sudah menerapkan penilaian kelas seperti pada kerangka kerja penilaian yang diterangkan diatas, hanya saja mungkin banyak guru- guru yang belum tau atau lupa mengenai prinsip-prinsip penilaian, standar matematika, belajar, kesetaraan & peluang, keterbukaan, kesimpulan dan koherensi, begitu juga dengan kompetensi matematika. MR rasa Semua guru juga sudah menerapkan metode-metode penilaian seperti yang telah saudari paparkan diatas, tapi mungkin tidak semua nya, guru juga menyesuaikan dengan materi yang diajarkan. Memang sebaiknya guru mengetahui dan mempraktekkan kerangka penilaian kelas seperti diatas agar penilaian yang dilakukan sesuai prosedur yang benar dan metode penilaian yang dilakukan juga lebih bervariasi lagi.
ü  Menurut MN yaitu sekarang sekolah di indonesia telah menerapkan penilaian berbasis kelas. Karena salah satu ciri penilaian berbasis kelas ciri ny adalah berpusat pada siswa, hal ini sesuai dgn kurikukum sekarang yaitu K13.
ü  Menurut MI sebenarnya sudah framework penilaian kelas yang di gunakan di indonesia sudah ada yang menggunakan dan ada juga yang belum mengunakan yang menggunakan k13 adalah salah satu contoh yg sudah menggunakan namun belum maksimal.

Apa yang saya berikan kepada teman saya?
Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa guru dan teman yang saya temui, ada hal yang dapat saya berikan, yaitu: saya setuju bahwa penilaian berbasis kelas sudah ada diterapkan di Indonesia karena pada kurikulum 2013 sudah terdapat unsur penilaian kelas ini. Namun karena penilaian berbasis kelas ini penilaiannya kompleks, maka penilaian kelas ini sangat bagus diterapkan oleh guru mengingat salah satu prinsip penilaian adalah jujur dan objektif. Dengan penilaian berbasis kelas ini, guru melakukan penilaian bukan hanya setelah selesai proses pembelajaran, tetapi juga sebelum, dan saat proses pembelajaran.



REFLEKSI EVALUASI PEMBELAJARAN


Nama              : Rifni Anjani
NIM                : P2A918003
Materi             : Analysis of Psychomotor Domain as a Relevant Factor In The Understanding of Mathematical Concepts

Apa yang telah saya pahami?
ü  Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif.
ü  Penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
ü  Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan.
ü  Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut   dapat berupa tes paper and  pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.

Apa yang belum saya pahami?
Contoh dalam matematika adalah penilaian terhadap kemampuan psikomotor siswa dalam belajar matematika dapat dilakukan dengan kombinasi penilaian dan pengamatan. Penilaian psikomotor berguna untuk mengukur keterampilan siswa melakukan kinerja tertentu. Penilaian psikomotor dapat berupa penilaian tertulis, penilaian identifikasi, penilaian simulasi, dan penilaian contoh kerja. Dalam kegiatan penilaian psikomotor, pengamatan berperan pada saat penilaian yang tidak tertulis. Bagaimana Pengukuran dalam ranah penilaian psikomotorik?

Upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham?
Upaya-upaya yang dilakukan agar segera paham adalah sebagai berikut:
a.   Mencari sumber lain, dalam hal ini adalah melalui internet.
b. Berdiskusi dengan teman dan orang yang berpengalaman dibidang pendidikan.

Apa saja yang saya dapatkan dari diskusi dengan teman?
ü  Menurut S dalam penilaian psikomotor dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan dan menyusun terlebih dahulu rubrik penilaian yang disesuaikan dengan materi pembelajaran dan kompetensi dasar yang ada sehingga domain psikomotor dapat terukur dengan baik.
ü  Menurut NK pengukuran sendiri adalah penilaian terhadap indikator dalam penilaian psikomotor yang hendak dicapai. Mislanya siswa terampil dalam menggunakan jangka dan lain-lain.
ü  Menurut NF dalam psikomotor, penilaian nya disesuaikan denagn KD yang di tuntuk oleh materi yang diajarakan. sebelum mengadakan pembelajaran terutama di K.13 ada dua KD yang akan di capai KD aspek kognitif dan kD untuk aspek psikomotornyA

Apa yang saya berikan kepada teman saya?
Berdasarkan hasil diskusi dengan teman penilaian psikomotor ini dapat dilakukan dengan cara menyusun dahulu indikator psikomotor yang hendak di capai lalu buat rubrik penilaian sesuai kurikulum yang sedang dipakai. Penilaian psikomotor juga dapat dilakukan berbasis teknologi, yaitu saat peserta didik mempraktikkan teori dalam kehidupan sehari-hari, mereka bisa merekam semua kegiatan yang berlangsung dalam bentuk video, kemudian mereka dapat menguploadnya di youtube agar dapat berguna bagi peserta didik lain yang ada di indonesia.

Monday, 25 February 2019

Domain Psikomotor dalam Pembelajaran Matematika


Pengertian Ranah Penilaian Psikomotor
         Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan hasil belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotor apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektif.
Berikut ini adalah beberapa kebutuhan untuk menilai psikomotor dalam matematika: -
1.      Untuk validitas konkuren serentak / tinggi
2.      Dasar untuk tugas baru
3.      Untuk menghindari fiksasi pada tahap selanjutnya - satu tugas mendahului / tergantung pada yang sebelumnya.
4.      Dominasi kegiatan psikomotorik - bahkan sejak zaman kuno.
5.      Pengabaian psikomotor dalam preferensi untuk penilaian kognitif.
6.      Hukum kontak - Untuk menghapus abstraksi
7.      Untuk menerapkan konsep konsep Plagets / Bruno ke setiap gerakan dan ikon.
8.      Hukum Antisipasi Pematangan morfologis: kecenderungan untuk mengisap dari rahim oleh anak dan rahim di luar anak untuk mengisap payudara.
9.      Untuk menyeimbangkan pengembangan kepribadian untuk tantangan di masa depan.
10.  Untuk pembelotan dini dari endowmen positif / negatif dalam kegiatan olahraga dan opsi serupa untuk dorongan / peningkatan.

Ciri-ciri Ranah Penilaian Psikomotor
Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis, memukul, melompat dan lain sebagainya.
Tabel  Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Psikomotorik
Tingkat
Deskripsi
I. Gerakan Refleks
Arti: gerakan refleks adalah basis semua perilaku bergerak, respons terhadap stimulus tanpa sadar.
Misalnya:melompat,menunduk,berjalan,menggerakkan leher dan kepala, menggenggam, memegang
Contoh kegiatan belajar:
– mengupas mangga dengan pisau
– memotong dahan bunga
– menampilkan ekspresi yang berbeda
– meniru gerakan polisi lalulintas, juru parkir
– meniru gerakan daun berbagai tumbuhan yang diterpa angin

II Gerakan dasar (basic fundamental movements)
Arti: gerakan ini muncul tanpa latihan tapi dapat Diperhalus melalui praktik gerakan ini terpola dan dapat ditebak
Contoh kegiatan belajar:
Contoh gerakan tak berpindah: bergoyang, membungkuk, merentang, mendorong, menarik, memeluk, berputar
Contoh gerakan berpindah: merangkak, maju perlahan-lahan, muluncur, berjalan, berlari, meloncat-loncat, berputar mengitari, memanjat.
Contoh gerakan manipulasi: menyusun balok/blok, menggunting, menggambar dengan krayon, memegang dan melepas objek, blok atau mainan.
Keterampilan gerak tangan dan jari-jari: memainkan bola, menggambar.

III.GerakanPersepsi
(Perceptualobilities)

Arti : Gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual
Contoh kegiatan belajar:
¨   menangkap bola, mendrible bola
¨   melompat dari satu petak ke petak lain dengan 1 kali sambil menjaga keseimbangan
¨   memilih satu objek kecil dari sekelompok objek yang ukurannya bervariasi
-   membaca melihat terbangnya bola pingpong
- melihat gerakan pendulun menggambar simbol geometri
-   menulis alfabet
¨   mengulangi pola gerak tarian
¨   memukul bola tenis, pingpong
¨   membedakan bunyi beragam alat musik
¨   membedakan suara berbagai binatang
¨   mengulangi ritme lagu yang pernah didengar
¨   membedakan berbagai tekstur dengan meraba

IV.Gerakan Kemampuan fisik (Psycal abilities)
Arti: gerak lebih efisien, berkembang melalui kematangan dan belajar
Contoh kegiatan belajar:
menggerakkan otot/sekelompok otot selama waktu tertentu berlari jauh
- mengangkat beban
- menarik-mendorong
- melakukan push-up
- kegiatan memperkuat lengan, kaki dan perut
- menari
- melakukan senam
- melakukan gerakan pesenam, pemain biola, pemain bola

V. gerakan terampil (Skilledmovements)
Arti: dapat mengontrol berbagai tingkat gerak – terampil, tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks)
Contoh kegiatan belajar:
melakukan gerakan terampil berbagai cabang olahraga
menari, berdansa
membuat kerajinan tangan
menggergaji
mengetik
bermain piano
memanah
skating
melakukan gerak akrobatik
melakukan koprol yang sulit

VI. Gerakan indah dan kreatif
(Non-discursive communicatio)

Arti: mengkomunikasikan perasaan melalui gerakan
- gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah
- gerakan kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran
Contoh kegiatan belajar:
kerja seni yang bermutu (membuat patung, melukis, menari baletr
- melakukan senam tingkat tinggi
- bermain drama (acting)
- keterampilan olahraga tingkat tinggi


Contoh Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotor
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.
           Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
           Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
           Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan. Observasi  sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik, kegiatan diskusi peserta didik, partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar.
           Observasi  dilakukan pada saat proses kegiatan itu berlangsung. Pengamat terlebih dahulu harus menetapkan kisi-kisi  tingkah laku apa yang hendak diobservasinya, lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Pengisian hasil observasi dalam pedoman yang dibuat sebenarnya bisa diisi secara bebas dalam bentuk uraian mengenai  tingkah laku   yang tampak  untuk diobservasi, bisa pula dalam bentuk memberi tanda cek (√) pada kolom jawaban hasil observasi.
           Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut   dapat berupa tes paper and  pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.
  • Tes simulasi

Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk memperagakan penampilan peserta didik, sehingga  peserta didik dapat dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau berperaga seolah-olah  menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
  • Tes unjuk kerja (work sample)

Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui tes ini, dilakukan dengan  sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut. Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan yang sebenarnya
          Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat menggunakan   daftar cek (check-list) ataupun  skala penilaian (rating scale).  Psikomotorik  yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala penilaian terentang dari  sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak baik.
Dengan kata lain, kegiatan belajar yang banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah psikomotor. Pengukuran hasil belajar ranah psikomotor menggunakan tes unjuk kerja atau lembar tugas.
Contohnya kemampuan psikomotor yang dibina dalam belajar matematika misalnya berkaitan dengan kemampuan mengukur (dengan satuan tertentu, baik satuan baku maupun tidak baku), menggambar bentuk-bentuk geometri (bangun datar, bangun ruang, garis, sudut,dll) atau tanpa alat. Contoh lainnya, siswa dibina kompetensinya menyangkut kemampuan melukis jaring-jaring kubus. Kemampuan dalam melukis jaring-jaring kubus secara psikomotor dapat dilihat dari gerak tangan siswa dalam menggunakan peralatan (jangka dan penggaris) saat melukis. Secara teknis penilaian ranah psikomotor dapat dilakukan dengan pengamatan (perlu lembar pengamatan) dan tes perbuatan.
           Dalam ranah psikomotorik yang diukur meliputi (1) gerak refleks, (2) gerak dasar fundamen, (3) keterampilan perseptual; diskriminasi kinestetik, diskriminasi visual, diskriminasi auditoris, diskriminasi taktis, keterampilan perseptual yang terkoordinasi, (4) keterampilan fisik, (5) gerakan terampil, (6) komunikasi non diskusi (tanpa bahasa-melalui gerakan) meliputi: gerakan ekspresif, gerakan interprestatif.

PERTANYAAN
Penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik. Apakah penilaian psikomotor ini dapat meningkatkan motivasi siswa atau sebaliknya dengan penilaian psikomotor membuat motivasi siswa menurun karna terlalu banyak penilaian? Jika iya, Bagaimana penilaian psikomotor dapat meningkatkan motivasi siswa?



REFERENSI
Egereonu, Rev. A. C. 2010. Analysis of psychomotor Domain as a  relevant factor in the Understanding of Mathematical Concepts. The Nigerian Academic Forum Volume 19 No.1
http://meldasyahputri.blogspot.com/2015/11/ranah-penilaian-kognitif-afektif-dan.html