Tuesday, 28 August 2018

LANDASAN TEORITIS MEDIA PEMBELAJARAN

            A. PENGETIAN MEDIA
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘trngah’, ‘perantara’, atau pengantar. Gerlach & Ely dalam Arsyad (2006:3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografi, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Hainich dan kawan-kawan (1982) dalam Arsyad (2006:4) mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Definisi tersebut menekankan istilah media sebagai sebuah perantara. Media berfungsi untuk menghubungan sebuah informasi dari satu pihak ke pihak lainnya. Sedangkan menurut Briggs dalam Bachtiar (2006:8) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Contohnya buku, film, kaset, dan film bingkai.
Berdasarkan definisi atau pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam proses belajar untuk menyampaiakanpesan, gagasan atau ide yang berupa materi pembelajaran kepada siswa oleh guru.
B. LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

Menurut Bruner ada tiga utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung(enactive), pengalaman piktorial/gambar (iconic) dan pengalaman abstrak (synbilic). Tingkat pengalaman pemerolehan hasil belajar seperti yang digambarkan oleh Dale  sebagai suatu proses komunikasi. Materi yang ingin di sampaikan dan di inginkan siswa dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan kedalam simbol-simbol tertentu (encoding) dan siswa sebagai penerima menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
Selanjutnya, landasan teori penggunaan media dalam proses belajar disampaikan oleh Dale (1969) dalam Arsyad (2013:  13) yaitu Dale’s Cone of experience (Kerucut Pengalaman Dale) “Kerucut ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman yang dikeluarkan oleh Burner”. Dalam kerucut tersebut dijelaskan bahwa pengalaman secara langsung (kongkrit) memberikan hasil belajar paling tinggi. Dilanjutkan oleh benda tiruan, dramatisasi, karyawisata, televisi, gambar hidup pameran, gambar diam, lambang visual dan lambang kata (abstrak) yang memberikan porsi paling sedkit. Meskipun begitu  Arsyad (2013: 13) menyampaikan bahwa urutan-urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar belajar harus selalu pengalaman langsung, tetapi dimualai dari pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan. Untuk lebih jelasnya berikut ini merupakan Kerucut Pengalaman Dale.
Ada beberapa landasan dalam penggunaan media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
             1.  Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat pada proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bunkahkan dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak polihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa seharusnya dihargai harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik mengunakan media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan Psikologi
Landasan psikologi ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Namun dapat dikatakan bahwa belajar itu adalah kegiatan yang bertujuan dan di dalamnya terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi lebih tahu, dari belum bisa menjadi bisa, dan bisa menjadi terampil. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
a.       Tingkat kecerdasan siswa
b.      Sikap siswa
c.       Bakat siswa
d.      Minat siswa
            e.    Motivasi siswa

Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. 
Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak.

            3. Landasan Teknologis
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. 
Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadisistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
Media belajar sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki manfaat yaitu :
a.            Meningkatkan produktifitas pendidik
Mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b.            Memberikan kemungkinan pembelajar yang sifatnya  lebih individual
Variasi dalam cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajar.
c.             Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran.
Perencanaan progam pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristik bahan pembelajaran dan analisis.
d.              Lebih memantapkan pembelajaran.
Meningkatkan kapasitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, dimana informasi dan data yang diterima lebih banyak, lebih legkap, dan akurat. Karena media mengatasi jurang pemisah antara pebelajar dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi.
e.       Dengan media dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung atau seketika. Karena media mengatasi jurang pemisah antara pembelajar dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekongkritan” meskipun tidak secara langsung.
f.               Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas.

       4. Landasan Empiris
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya.
Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Menurut Soetopo (2013) bedasarkan pengalaman nyata dari hasil penelitian, murid yang diajarkan oleh guru yang menggunakan media bervariasi dibandingkan dengan murid yang dajarkan oleh guru yang tidak menggunakan media bervariasi, hasil belajarnya lebih tinggi murid yang diajarkan oleh guru yang menggunakan media bervariasi.

5. Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pebelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditimjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk megetahui latar belakang sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pembelajaran visual sekitar tahun 1923. Yang dimaksud dengan alat bantu dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pembelajar.
Kemudian konsep penbelajaran visual ini berkembang menjadi “ audio visual instruction” atau “ audio visual education”  yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 muncul beberapa variasi nama seperti “ audio visual material “ , audio visual method “ atau “ audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat dan bahan oleh pembelajar untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pembelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaatan konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “ kerucut pengalaman “ Edgar Dale
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “ audio visual comunication “ pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, penekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pebelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komunikasi informasi atau pesan dari sumber ( pembelajar, materi atau bahan ) kepada pemerima ( pembelajar ). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekanan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sestem, desain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsep ” instruktional materials “ yang secara konsepional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi  ini ialah mengaplikasikan proses aplikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran.
Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “ instructional material “ adalah “teaching/learning “ , ” learning resources”. Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan instilah “educational media” dan “ instructional media”. yang sebenarnya secara konsepsional tidak mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi sekirar tahun 1969-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori komunukasi, pengembangan sistem pembelajaran, dan pengaruh pesikologi. Behviorisme, maka muncullah konsep “educational technologi “ atau “  instrucional technologi “ dimana media pendidikan atau media pembelajara adalah bagian dari padanya.

PERMASALAHAN:
Berdasarkan landasan empiris diatas yg menyatakan bahwa siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Jadi bagaimana cara guru menyesuaikan media tersebut kepada masing-masing siswa yang mempunyai karakterisktik dan gaya belajar yang berbeda?  Apakah guru harus menyiapkan bermacam-macam media karna adanya perbedaan gaya belajar tersebut?

Referensi
Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSAD
Bachtiar, W. Harsja. 2006. Media Pendidikan. Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSAD